WHO: Transgender Bukan Lagi Gangguan Mental

Keputusan tersebut mendapatkan apresiasi dari beberapa aktivis hak asasi manusia dan LGBT.

“Keputusan WHO menghapus ‘gangguan identitas gender’ dari manual diagnostiknya akan memiliki efek membebaskan pada orang-orang transgender di seluruh dunia,” kata Graeme Reid, direktur hak LGBT+ di Human Rights Watch.

Mengutip Webmd, istilah ketidaksesuaian gender digunakan oleh WHO untuk menggambarkan orang-orang yang identitas gendernya berbeda dari gender yang melekat padanya saat lahir.

WHO menyatakan, klasifikasi baru ini diharapkan bisa meningkatkan penerimaan sosial, serta memberikan akses bagi para transgender ke sumber daya kesehatan yang penting.

“Ini dikeluarkan dari gangguan kesehatan mental karena kami memiliki pemahaman yang lebih baik bahwa ini sebenarnya bukan kondisi kesehatan mental dan mengaitkannya di sana menyebabkan stigma,” kata Dr. Lale Say, koordinator WHO di bidang remaja dan kelompok berisiko dalam populasi.

“Jadi, untuk mengurangi stigma, serta memastikan akses ke intervensi kesehatan yang diperlukan, ini ditempatkan dalam bab yang berbeda,” kata Say menjelaskan.