Tingkatkan Upaya Penyelamatan Wanita, Kini Ada Peraga CPR Berpayudara

Liputan6.com, Jakarta Selama ini manekin peraga CPR (cardiopulmonary resuscitation) dibuat dengan desain pria, sekelompok agensi periklanan mencoba menciptakan tampilan baru yang lebih ramah untuk wanita.

Mengutip Yahoo News pada Kamis (13/6/2019), sebuah studi yang dilakukan Duke University, Amerika Serikat menemukan bahwa wanita yang menderita serangan jantung di ruang publik, 27 persen lebih kecil kemungkinannya menerima CPR. Beberapa meyakini bahwa ini terkait dengan kekhawatiran menyentuh payudara.

Maka dari itu, agensi tersebut menciptakan sebuah produk yang bernama Womanikin. Peraga ini memiliki desain dengan payudara yang selama ini tidak ada dalam model boneka standar.

“Selama bertahun-tahun, masyarakat kita tabu untuk menyentuh payudara. Sementara, pelatihan CPR sudah menjadi hal yang umum, kita masih belajar dengan dada pria,” tulis JOAN Creative, pembuat peraga itu dalam laman resmi Womanikin.

Peraga CPR ini diciptakan dengan desain tubuh perempuan (Screenshot Womanikin)

2 dari 3 halaman

Pelatihan CPR dengan Manekin Wanita Bisa Menyelamatkan Nyawa

Penggunaan Womanikin untuk pelatihan CPR (Screenshot Womanikin)

Dengan peraga tersebut, agensi itu menyatakan bahwa mereka ingin menjadi jembatan untuk kesenjangan yang ada dalam pelatihan CPR.

Kepada CNN, Jaime Robinson, salah satu pendiri dan kepala kreatif JOAN mengatakan bahwa mereka ingin membuat produk yang mudah ditiru, sehingga instruktur dan sekolah-sekolah bisa mengadopsinya untuk pelatihan CPR.

“Sebagian besar dari kita belajar dengan peraga berdada rata. Keterikatan universal ini akan mengubah itu. Womanikin tidak akan menyelesaikan segalanya, tetapi ini adalah salah satu langkah ke arah yang benar,” kata Robinson seperti dikutip dari CNN.

Dalam laman resminya, Womanikin juga memberikan instruksi cara penggunaannya. Panduan tersebut juga menyatakan selama bertujuan untuk menyelamatkan nyawa pasien, tidak apa memberikan CPR pada wanita.

“Jangan khawatir. Anda mungkin saja menyelamatkan hidupnya,” tulis mereka.

Konsep ini diapresiasi oleh beberapa tenaga kesehatan. Salah satunya Robert Glatter, seorang emergency physician di Lenox Hill Hospital, Manhattan, AS.

“Itu akan membantu meningkatkan adopsi CPR pada wanita, tetapi juga membantu mengurangi bias gender mengenai penyakit jantung pada wanita,” kata Glatter seperti dikutip dari MarketWatch.

“Ketika dilakukan dengan benar, posisi tangan biasanya melibatkan menyentuh payudara,” tambahnya.

3 dari 3 halaman

Simak juga Video Menarik Berikut Ini