Menilik Kejiwaan Caleg yang Stres Usai Pemilu

Liputan6.com, Jakarta Ada calon legislatif (caleg) yang gagal duduk di kursi DPRD atau DPR bisa menerima lalu melanjutkan hidup dengan biasa. Namun, ada juga yang stres karena gagal meraup suara terbanyak. Mengapa bisa berbeda efeknya pada masing-masing individu?

Menurut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza, Kementerian Kesehatan RI, dr Fidiansjah SpKJ penyebab stres yang terjadi pada individu sebenarnya tidak bisa diprediksi. Namun, yang pasti, ketika daya tahan mental rapuh, lalu ada gejolak antara cita-cita dan harapan sementara realitasnya tidak terpenuhi bisa menyebabkan seseorang mengalami stres.

“Orang-orang yang rapuh menghadapi antara realitas dengan kenyataan bukan hanya pada pemilu. Tapi terjadi di semua kondisi. Untuk itu, prinsipnya di dalam penyeleksian pasti mengalami kemenangan atau kegagalan,” kata dokter yang karib disapa Fidi.

“Maka kesiapan menerima kenyataan karena tidak sesuai yang diharapan harus bisa menerima. Prinsip pertamanya itu siap kalah dan menang,” lanjutnya seperti dikutip rilis yang diterima Liputan6.com Rabu (17/4/2019).

Sebenarnya, sebelum seseorang maju menjadi calon legislatif, orang ini harus menunjukkan surat keterangan kesehatan termasuk kesehatan jiwa. Namun, ketika seseorang gagal duduk di kursi DPR atau DPRD hal ini dianggap sebagai kejadian tidak biasa. Bisa dianalogikan seperti bencana alam yang memang tidak bisa diprediksi.

“Ini sebuah situasi yang diketahui banyak pihak sebagai sesuatu seperti kejadian yang tidak biasa atau bencana. Proses ini (pemilu) adalah proses persaingan dan gangguan jiwa itu bisa terjadi dari ringan sampai tingkat berat,” kata Fidi.