Mengenal Co-Parenting, Alternatif Pengasuhan Anak bagi Pasangan Cerai

Liputan6.com, Jakarta Tak ada satupun pasangan suami-istri yang menginginkan perceraian. Apalagi bila telah dikaruniai anak. Tapi, bila perpisahan tak terhindarkan, co-parenting mungkin bisa jadi solusi dalam membesarkan buah hati bersama-sama. Berikut sharing Mommy Vynditan Azalea dari Babyologist.

Istilah co-parenting mungkin masih terdengar asing di telinga. Nah, co-parenting sendiri ialah pengasuhan anak setelah perceraian, orangtua yang sudah bercerai tetap bersama-sama mengasuh dan membesarkan si Kecil meskipun sudah tidak ada ikatan pernikahan. Tidak ada satupun anak yang mau orangtuanya bercerai, dan tidak ada satu orangpun yang menginginkan rumah tangganya berujung perceraian bukan?

Perceraian merupakan salah satu hal yang berdampak besar pada psikologis anak. Banyak dari pasangan yang bercerai memutus hubungan dan menyisakan tanda tanya besar bagi anak, misal “Ma, papa mana?” atau “Pa, mamaku kemana kok jarang temuin aku?”. Pertanyaan yang sangat menyayat hati tentunya. Apakah kita akan membiarkan anak kita bertanya seperti itu hanya karena keegoisan para orangtua yang bercerai? Jangan sampai anak merasa aku nggak disayang dan akhirnya mencari kasih sayang tersebut dari orang yang salah.

Kita mungkin mampu membesarkan anak seorang diri karena financial kita mencukupi, tapi apakah kasih sayang itu cukup? Anak mungkin akan merasa hampa. Wajar saja jika kita masih kesal bahkan benci terhadap mantan pasangan kita. Satu hal yang harus kita tempatkan di atas keegoisan kita adalah “Anak”.

Saat kita bertanya untuk apa masih berhubungan dengan mantan, toh semuanya sudah selesai di meja persidangan? Ingat kembali bahwa urusan Anda dan mantan pasangan Anda masih berlanjut hingga kapan pun karena hadirnya buah cinta. Ubah cara pandang tersebut singkirkan ego dan pisahkan antara kekesalan karena ternyata, nyatanya masih belum ‘sembuh’ sepenuhnya pasca perceraian dan menempatkan kepentingan anak di atas ke-aku-an itu.