Kusta Bukan Penyakit Kutukan dari Dewa, Juga Bukan karena Keturunan

Liputan6.com, Jakarta Di era teknologi yang makin canggih mitos seputar kusta masih beredar di masyarakat. Ada yang menyebutnya sebagai penyakit keturunan, ada juga yang mengaitkan bahwa ini adalah kutukan dewa. Nyatanya, bukan seperti itu.

Kusta adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini menular lewat kontak langsung dengan penderita yang belum diobati. Penularan bisa lewat pernapasan dan udara.

Walau menular, masih banyak masyarakat yang menganggap remeh penyakit ini. Alhasil, kusta yang tidak diobati malah menjadi sumber penularan ke orang lain seperti disampaikan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan RI, Wiendra Waworuntu.

“Sebenarnya permasalahan kusta itu hanya dia bercak dan tidak berasa, jadi dia anggap biasa, padahal kalau terlambat ditemukan dan aktif bakterinya menjadi sumber penularan,” katanya dalam peringatan Hari Kusta Sedunia di Kantor Kementerian Kesehatan Kuningan Jakarta ditulis Sabtu (9/2/2019) seperti dilansir dari laman Sehat Negeriku.

2 dari 3 halaman

Ada 6 penderita kusta dari 100 ribu orang di Indonesia

Yohei Sasakawa mengecek kaki gadis 22 tahun yang terinfeksi kusta di Gowa. (Nilam Suri/Liputan6.com)

Angka Penemuan Kasus Baru Indonesia yakni 6,07 per 100.000 penduduk. Total kasus baru sebanyak 15.910.

Hingga kini, masih ada 10 provinsi di Indonesia yang belum berhasil mencapai eliminasi kusta. Sebagian besar provinsi itu ada di Indonesia bagian timur.

“Provinsi yang belum eliminasi kusta yakni Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku, Papua, Maluku Utara, dan Papua Barat,” kata Wiendra.

3 dari 3 halaman

Kenali gejala

Stigma yang menempel pada penyakit kusta masih sangat kuat.

Gejala kusta ada beberapa jenis tergantung lokasi. Pada kulit ditandai dengan bercak putih maupun bercak merah dan mati rasa, kadang berupa benjolan-benjolan di lengan, wajah, badan, dan telinga.

Sementara itu, pada saraf tepi ditandai dengan mati rasa pada area telapak tangan dan atau telapak kaki yang mengalami kerusakan saraf, kelumpuhan di tangan dan kaki, kering, dan tidak berkeringat.

“Yang perlu kita waspadai adalah Indonesia penyumbang kusta ke-3 di dunia. Kelainan pada kusta ini mirip dengan penyakit lain, seperti panu, kurap, dan kaligata,” kata Sri Linuwih dari Divisi Dermatologi Infeksi Tropik Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di kesempatan yang sama.

Lebih baik, bila menemui gejala di atas segera memeriksakan ke puskesmas atau layanan kesehatan lainnya. Jika ditemukan dini lalu segera diobati, kusta tidak identik dengan cacat.