KPAI Bicara Rokok: Naikkan Cukai dan Upaya Denormalisasi

Liputan6.com, Jakarta Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) membeberkan lima alasan pentingnya pembatasan penggunaan rokok. Adanya pembatasan tersebut bertujuan melindungi masyarakat dari bahaya asap rokok, terutama anak-anak serta menjauhkan anak daari target pemasaran rokok.

Komisioner KPAI Bidang Kesehatan dan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif (Napza) Sitti Hikmawatty menjelaskan, pembatasan penggunaan rokok.

Pertama, rokok mengandung zat adiktif berbahaya, yang menyebabkan kecanduan. Dalam peraturan secara umum, penggunaan zat adiktif harus dilarang, kecuali rokok yang boleh dibatasi. Artinya, zat adiktif rokok maish tahap dibatasi.

“Kalau dibatasi, rokok kan jadi sesuatu yang tidak saklek (dilarang) lagi. Contohnya, kita hanya dibatasi boleh tiga batang rokok. Bisa saja karena pecandu, boleh dong lima batang rokok. Nah, kalau (zat adiktif pada rokok) dilarang ya artinya rokok itu sama sekali tidak boleh. No at all,” papar Sitti saat berbincang dengan Health Liputan6.com di Hotel Aryaduta, Jakarta beberapa hari lalu, ditulis Minggu, 17 Maret 2019.

Kedua, rokok bukanlah produksi normal sehingga perketat cukai. Berbeda dengan makanan, rokok perlu dikenakan cukai, bukan pajak. Kalau pajak dengan cukai lebih tinggi cukai. Tapi tidak semua barang dikenakan cukai. Hanya barang tertentu saja. Untuk semua bahan dikenakan pajak.

“Kenapa (rokok) dikenakan cukai? Karena rokok termasuk barang tertentu yang tercatat dikenakan cukai. Ya, sudah saja naikkan cukainya. Ini (nilai cukai) lebih besar daripada pajak,” ujar Sitti.

Simak video menarik berikut ini:

Padahal aksi si bapak yang merokok di dalam bioskop itu telah ditegur para pengunjung. Namun, ia tetap tidak peduli.