Kecantikan Bikin Otak Bekerja Seperti Kecanduan Obat

Liputan6.com, Jakarta Keinginan manusia dalam melihat wajah yang menarik menurutnya, berperan ketika dia memilih pasangannya. Ketertarikan akan kecantikan ini ternyata memiliki efek yang sama seperti morfin.

Melansir Live Science pada Kamis (14/2/2019), para peneliti menemukan bahwa daya tarik wajah merangsang wilayah otak yang sama dengan opioid morfin. Ini juga tidak jauh berbeda dari rasa makanan yang enak dan musik yang bagus.

“Terikat pada seseorang, seperti pasangan romantis, juga berharga bagi orang-orang,” kata peneliti dalam studi yang dipulikasikan di jurnal Molecular Psychiatry pada 11 Februari 2019 itu, psikolog Olga Chelnokova dari University at Oslo, Norwegia.

Para peneliti menyatakan bahwa perasaan suka dan menginginkan adalah sesuatu yang berbeda. Menyukai menggambarkan ketertarikan pada sesuatu, sementara keinginan menggambarkan motivasi untuk memilikinya, terlepas apakah seseorang menyukainya atau tidak.

Sistem opioid adalah bagian dari otak yang menerjemahkan “kesukaan”. Sementara, sistem dopamin mengendalikan “keinginan.”

Chelnokova mengatakan, sebagian besar penelitian tentang ketertarikan manusia melibatkan pemindaian otak secara pasif, daripada melihatnya dengan obat-obatan. Selain itu, studi-studi terakhir dilakukan pada hewan, bukan manusia. 

Saksikan juga video menarik berikut ini:

2 dari 2 halaman

Morfin merangsang otak lebih tertarik

Daya tarik pria akan seseorang yang menurutnya cantik bekerja seperti kecanduan obat (iStockphoto)

Para peneliti dalam studi ini meminta tiga puluh pria sehat sebagai partisipan mereka. Peserta diberikan beberapa morfin yang mengaktifkan reseptor di sistem opioid mereka. Sementara, yang lain diberikan penekan opioid.

Setelah itu, para ilmuwan memperlihatkan beberapa foto wanita yang bervariasi secara daya tarik. Para peserta kemudian diminta menilai seberapa besar mereka menyukai setiap wajah, serta mengukur waktu yang dibutuhkan partisipan ketika melihat satu gambar.

Para ilmuwan yang mengonsumsi morfin, ditemukan menilai wajah yang menarik menurut mereka dengan sangat tinggi. Ini membuat mereka menjadi lebih menyukainya ketimbang wajah lainnya.

Selain itu, para peserta tersebut juga menghabiskan lebih banyak waktu melihat gambar wajah yang paling menarik dan sedikit waktu melihat yang tidak terlalu menarik menurut mereka. Ini juga menunjukkan bahwa mereka lebih menginginkan wajah-wajah itu.

Sebaliknya, pria yang menggunakan penekan opioid menunjukkan kurangnya kesukaan dan keinginan. Mereka menilai wajah-wajah tersebut tidak terlalu menarik dan menghabiskan lebih sedikit waktu melihatnya.

Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi morfin memiliki efek pada cara pria dalam memandang perempuan yang paling menarik. Para peneliti mengatakan bahwa daya tarik tersebut kemungkinan menunjukkan kebugaran evolusi.

Di sisi lain, sistem opioid membantu manusia untuk memilih pasangan yang terbaik dengan menghasilkan perasaan ketika melihat orang yang dipilih. Ini membuat orang yang menurutnya tidak menarik, menjadi kurang diinginkan.