Hindari Bersikap Mesra, Kunci Hubungan Seksual Tetap Membara

Liputan6.com, Jakarta Banyak pasutri yang percaya, kemesraan berbanding lurus dengan kehangatan kehidupan ranjang. Tapi, seorang jurnalis asal Australia melihat bersikap mesra dan gairah bercinta sebagai dua hal terpisah.

Sang jurnalis, Nadia Bokody, menyatakan menghindari bersikap mesra pada pasangan yang menjadi kunci kehidupan ranjang mereka tetap membara.

Menurut Nadia, bermesraan menumbuhkan kenyamanan dalam hubungan dan setiap orang mendambakannya. Tapi sikap mesra itu justru membunuh gairah bercinta, Nadia berargumen.

“Pelukan lama dan hangat yang diberikan pada waktu yang tepat benar-benar bisa jadi obat,” tulis Nadia pada laman News Australia, ditulis Rabu (14/2/2019).

“Tapi sejauh menyangkut kehidupan seks Anda, itu adalah hal terburuk yang bisa Anda lakukan,” lanjutnya.

Nadia berpendapat, erotisme dan kenyamaman sama sekali tak cocok digabungkan. Keduanya justru merupakan antitesis bagi satu sama lain. Dia mengibaratkan pelukan mesra seperti menambah arsenik pada resep hubungan. 

Saksikan juga video berikut ini:

2 dari 2 halaman

Menyiasati fase bulan madu

Ilustrasi relationship, pasangan romantis. (dok.pexels.com/Ibrahim Asad)

Nadia memberi contoh pada pernikahan yang mengalami kehancuran akibat kurangnya keintiman. Menurutnya, rasa familiar yang menjadikan pasutri rileks saat berdekatan menjadi penyebab meredupnya gairah seksual.

Gairah dan rasa penasaran yang mewarnai awal hubungan, yang biasa dikenal dengan Fase Bulan Madu, umumnya meredup setelah hubungan berjalan beberapa tahun.

Melansir laman Daily Star, Nadia mempraktikkan apa yang diyakininya itu dalam hubungan yang telah dijalaninya selama dua tahun terakhir. Nadia dan pasangannya membatasi bersikap mesra terhadap satu sama lain.

Mereka hanya berpelukan dan bersikap hangat ketika salah satu perlu penghiburan atau merayakan sesuatu. Mereka pun sangat menjaga privasi, seperti tidak membiasakan melepas pakaian di depan pasangan kecuali akan berhubungan intim. Serta membiarkan rasa penasaran dari kebiasaan sehari-hari tumbuh di antara mereka.

“Itu adalah pengorbanan yang setimpal dengan hasilnya,” tutup Nadia.