Hari Bumi 2019: Fakta Baru Perubahan Iklim Akibat Ulah Manusia

Liputan6.com, California Menyoroti Hari Bumi 2019 yang jatuh pada 22 April, persoalan perubahan iklim semakin nyata terjadi di kehidupan kita sehari-hari. Berbagai penelitian baru yang dilakukan hanya dalam enam bulan terakhir menemukan fakta terbaru tentang perubahan iklim yang disebabkan manusia.

Hal tersebut memengaruhi sistem cuaca global dan keberlangsungan planet kita. Peneliti Benjamin Santer dari Lawrence Livermore National Laboratory di Livermore, California, Amerika Serikat memaparkan, ada kemungkinan 99,9999 persen manusia adalah penyebab pemanasan global.

Studi yang dipublikasikan pada Februari 2019 di jurnal Nature Climate Change melaporkan, faktor ulah manusia ikut memengaruhi perubahan iklim yang berlangsung selama beberapa dekade.

“Manusia membakar bahan bakar fosil, seperti minyak, batu bara, dan gas. Semua itu melepaskan karbon dioksida (CO2), metana, dan gas lainnya ke atmosfer, dan lautan Bumi. Nah, CO2 ini adalah gas rumah kaca yang paling bertanggung jawab untuk pemanasan global,” papar Benjamin, dikutip dari USA Today, Senin (22/4/2019).

Berikut ini, catatan fakta terbaru perubahan iklim:

Suhu terpanas

Lima tahun terakhir menjadi suhu terpanas sejak pencatatan suhu dimulai pada akhir tahun 1800-an. Bumi kenaikan suhu global di atas rata-rata selama 42 tahun berturut-turut (sejak 1977), menurut National Oceanic and Atmospheric Administration.

Berdasarkan lima set data terpisah yang melacak iklim Bumi, suhu rata-rata global untuk 10 bulan pertama tahun 2018 sekitar 1,8 derajat. Suhu itu melebihi yang terjadi di akhir 1800-an. Pada masa itu, pertumbuhan industri mulai mengeluarkan sejumlah besar gas rumah kaca ke atmosfer.

Australia mengalami rekor musim panas pada Januari tahun ini. Kota Port Augusta mencapai suhu terpanas sejak pencatatan dimulai pada tahun 1962 dengan suhu 121, menurut Guardian.

Panas yang begitu menyengat hingga menyebabkan kelelawar jatuh dari pohon, menurut Australian Broadcasting Corporation.