Dikira Bantu Remaja Akhiri Hidup, Klinik Eutanasia di Belanda Banjir Permintaan

Liputan6.com, Jakarta Sebuah klinik eutanasia di Den Haag, Belanda melaporkan adanya permintaan dari orang-orang yang ingin mengakhiri hidupnya.

Ini terjadi setelah Levenseindekliniek (End of Life Clinic), disebut-sebut membantu seorang remaja 17 tahun bernama Noa Pothoven. Mengutip The Business Times pada Senin (10/6/2019), setidaknya, mereka mendapat sedikitnya 25 permintaan dari luar negeri.

Padahal, kejadian sesungguhnya adalah, Pothoven tidak meninggal karena eutanasia. Dia meninggal di hari Minggu setelah menolak untuk makan dan minum. Keluarga dan pemerintah setempat telah mengonfirmasi hal ini.

Mengutip The Sun, Pothoven diketahui mengalami pemerkosaan di masa kanak-kanaknya. Cerita itu dia terbitkan dalam sebuah buku. Kasus tersebut membuatnya mengalami stres pasca trauma, depresi, dan anoreksia.

Dalam sebuah wawancara Desember tahun lalu. Noa mengatakan bahwa dia mengontak Levenseindekliniek untuk membicarakan tentang niatan mengakhiri hidupnya.

“Setelah bertahun-tahun berjuang dan bertempur, saya kehabisan tenaga,” tulis Noa dalam unggahan Instagramnya, sehari jelang kematiannya.

“Saya sudah berhenti makan dan minum untuk sementara waktu sekarang dan setelah banyak diskusi dan evaluasi, saya putuskan untuk membiarkan diri saya pergi karena penderitaan yang tidak tertahankan.”