Dibanding Korban Anak, Pemulihan Mental Korban Tsunami Selat Sunda Dewasa Lebih Sulit

Sementara untuk anak-anak, pemulihan mental memang terlihat lebih mudah. Seperti pada Revan. Bocah usia 8 tahun ini seakan tidak mengalami masalah ketika bertemu dengan Health Liputan6.com. Namun saat ditanya, Revan terlihat malu saat menjawab.

“Kalau ditanya baru kelihatan sedihnya,” kata Asep.

Asep menambahkan, yang penting saat ini adalah bagaimana masyarakat terdampak tsunami melanjutkan hidupnya. Terutama untuk pendidikan anak-anak serta bagaimana orang dewasa melanjutkan pekerjaan demi hidup mereka.

“Tadi saya tanya, kamu masih mau jadi nelayan, dia bilang trauma. Berarti harus ada sesuatu yang mereka kerjakan. Pekerjaan yang bisa menghasilkan untuk menghidup,” kata Asep.

Selain itu, mereka yang juga kehilangan rumah butuh bantuan dari berbagai pihak, khususnya pemerintah.

“Menurut saya ini yang darurat. Soalnya kalau masih seperti ini, korban biasanya, kalau dalam bahasa Sundanya, uleng-uleng. Bingung,” tambah Asep.