Ciri-ciri Memar dan Ruam Tanda Kanker Darah

Liputan6.com, Jakarta Memar dan ruam menjadi gejala lain kanker darah yang tidak biasa. Pada penderita leukemia, salah satu jenis kanker darah, ruam dan memar dapat terjadi.

Ketua Departemen Onkologi Medis, Pamela Crilley dari Cancer Treatment Centers of America mengatakan, memar yang menjadi tanda kanker darah berbeda dengan memar biasa. Dalam hal ini, memar yang muncul tidaklah biasa.

“Muncul memar yang tidak dapat dijelaskan, tanpa trauma fisik. Ini mungkin merupakan salah satu dari banyak gejala leukemia”, kata Pamela, dikutip dari Reader’s Digest, Kamis, 14 Februari 2019.

Memar yang tidak biasa adalah hasil dari jumlah trombosit rendah atau masalah pembekuan darah. “Anda akan memar secara spontan, sepertinya tidak melakukan apa-apa,” ujar Pamela.

Dari segi bentuk, tampak sama seperti memar biasa, yang membedakan adalah memar tanda kanker darah muncul dalam jumlah banyak. Umumnya memar lebih banyak pada kaki dan lengan. 

Saksikan video menarik berikut ini:

2 dari 3 halaman

Area tubuh tak biasa

Memar muncul pada punggung. (iStockphoto)

American Cancer Society menjelaskan, memar terjadi ketika pembuluh darah di bawah kulit rusak. Penderita leukemia lebih cenderung memar karena tubuh tidak membuat platelet (trombosit) yang cukup untuk menutup pembuluh darah yang berdarah.

Pembekuan darah pun mengalami kendala. Memar leukemia terlihat seperti memar lainnya, tetapi ada lebih banyak dari biasanya. Selain itu juga muncul memar pada area tubuh yang tak biasa seperti punggung.

3 dari 3 halaman

Ruam tanda leukemia

Ruam yang menyebar ke bagian tubuh lain. Sumber foto: unsplash.com/Nolan Marketti.

Leukemia dapat menyebabkan pembuluh darah kecil yang disebut kapiler pecah di bawah kulit. Ketika leukemia berkembang ke titik tertentu, penggandaan sel darah abnormal dapat mengganggu produksi trombosit.

Akibatnya, mungkin tidak ada trombosit yang cukup untuk memblokir kapiler yang pecah. Darah pun bocor pada kulit.

Kebocoran ini memunculkan bintik-bintik merah, ungu atau cokelat kecil yang disebut petechiae pada kulit. Bintik-bintik kecil dari petechiae ini memberikan tampilan ruam-ruam.

Dalam jurnal Leukemia Cutis: an Unusual Rash in A Child, yang diterbitkan pada CMAJ tahun 2010, ada seorang anak perempuan berusia 4 tahun yang sebelumnya sehat kemudian dilaporkan mengalami ruam tiba-tiba pada pipinya.

Ruam tersebut tidak terasa gatal. Selama minggu berikutnya, ruamnya menyebar dari pipi ke lengan, punggung, paha dan bokong. Pasien tidak memiliki gejala lain.

Satu minggu kemudian, ruam belum sembuh. Setelah dilakukan biopsi kulit dua minggu setelah timbulnya ruam, hasil biopsi menunjukkan sel-sel darah akibat serangan leukemia.

Terapi induksi menggunakan protokol COG AALL 0434, yang meliputi methotrexate intratekal, sitarabin intratekal, vincristine, prednisone, pegasparaginase dan daunorubicin. Pada akhir induksi, sumsum tulang pasien mengandung sel-sel kanker darah sebesar 26 persen.