Cegah Bunuh Diri, Ilmuwan Kembangkan Pil Obati Kesepian

Liputan6.com, Jakarta Para pakar saat ini mulai memperhitungkan kesepian sebagai salah satu penyebab dari berbagai masalah yang terkait dengan kesehatan mental. Beberapa masyarakat di negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, hingga Inggris sudah mengalami kondisi tersebut.

Seorang ilmuwan di AS menawarkan sebuah solusi yang terbilang unik untuk mengatasi kesepian. Cara tersebut adalah dengan mengonsumsi sebuah pil.

Mengutip New York Post pada Kamis (31/1/2019), Kepala Brain Dynamics Lab di University of Chicago Pritzker School of Medicine, Stephanie Cacioppo mengatakan dia sedang meneliti pil yang diharapkan bisa mencegah seseorang mengalami kesepian kronis. Upaya ini menarik banyak perhatian di dunia medis.

“Merasakan kesepian meningkatkan risiko kematian lebih awal sebesar 26 persen, yang sebenarnya melebihi obesitas,” kata Cacioppo kepada Fox News. Dia juga menambahkan, apabila kesepian menyebar dan menular, ini bisa menjadi sebuah epidemi.

Selain itu, Cacioppo juga mengatakan bahwa pil ini bukan menjadi solusi jangka panjang. Namun, bisa digunakan sebagai cara cepat agar terhindar dari ketergantungan.

“Mungkin bermanfaat untuk mencegah bunuh diri. Dan ini sama sekali bukan pengganti koneksi sosial yang sehat,” imbuhnya.

Simak juga video menarik berikut ini:

2 dari 2 halaman

Waktu-waktu di mana kesepian meningkat

Seorang ilmuwan mengembangkan pil untuk mengatasi kesepian (iStock)

Pil ini sendiri berfokus untuk menormalkan kadar allopregnanolone, sebuah neurosteroid yang diproduksi secara alami dalam tubuh. Hasilnya adalah beberapa perubahan biologis terkait kesepian di otak. Selain itu, obat ini diklaim berbeda dari anti-depresan yang biasa digunakan.

“Kami secara khusus menargetkan kesepian.”

Cacioppo juga mencatat adanya peningkatan perasaan kesepian di beberapa waktu tertentu. Misalnya saat tahun baru atau Hari Valentine. Dia juga menyatakan bahwa media sosial yang seharusnya membantu orang lain terhubung malah menyebabkan perasaan isolasi yang lebih besar.

“Ini semua tergantung bagaimana Anda menggunakannya. Jika Anda menggunakan media sosial hanya untuk menonton orang lain bersenang-senang, Anda mungkin merasa sangat kesepian,” kata Cacioppo.

“Namun jika Anda menggunakannya sebagai cara untuk bicara dengan teman dan benar-benar otentik, kemudian menjadwalkan pertemuan tatap muka, Anda mungkin kurang merasakan kesepian.”

Menurut penulis “The Happiness Project“, Gretchen Rubin, ada beberapa langkah melawan kesepian tanpa pengobatan. Contohnya dengan mengajar atau menjadi sukarelawan.

“Memberikan dukungan sama pentingnya dengan mendapatkan dukungan,” kata Rubin.