BPOM Jadi Tuan Rumah Forum Kerja Sama Institusi Pengawas Obat Negara-Negara Dunia

Liputan6.com, Jakarta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia kembali dipercaya sebagai tuan rumah bagi forum kerja sama dunia. Kali ini, BPOM dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan PIC/S Expert Circle Meeting on Human Blood, Tissues, Cells and ATMPs 2019 pada 9-10 Oktober 2019. 

PIC/S Expert Circle Meeting merupakan forum area teknis spesifik yang mencakup pembahasan mengenai produk darah, sel dan jaringan manusia, sistem teknologi informasi komputerisasi, bahan baku obat, dan manajemen risiko mutu di industri farmasi. Forum ini berperan penting dalam pengembangan pedoman spesifik dan ajang peningkatan kompetensi untuk Inspektur CPOB.

Mengangkat tema “Human Blood, Tissues, Cells and ATMPs: How to inspect and current trends”, PIC/S Expert Circle Meeting on Human Blood, Tissues, Cells and ATMPs 2019 menghadirkan pakar dan pembicara dari Institusi Otoritas Pengawas Obat, tim ahli dari WHO dan Lembaga internasional, praktisi industri farmasi, dan serta akademisi dari negara-negara di Asia, Eropa, Amerika, dan Australia. Kegiatan yang terdiri dari rangkaian seminar dan workshop ini dihadiri 105 orang inspektur CPOB yang berasal dari 25 negara.

Kepala BPOM Penny K Lukito menyampaikan bahwa keanggotaan BPOM dalam PIC/S menunjukkan kredibilitas sekaligus komitmen Indonesia dalam upaya menjamin produk obat yang aman, bermutu, dan efektif demi kemajuan industri farmasi dalam negeri.

“Selain itu, kegiatan ini juga menunjukkan komitmen Badan POM dalam mendukung implementasi Inpres No. 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan,” jelas Kepala BPOM Penny K Lukito, sesuai keterangan pers yang diterima Health-Liputan6.com.

Lebih lanjut Penny memaparkan bahwa topik yang dibahas pada PIC/S Expert Meeting kali ini sangat tepat, karena pada saat ini BPOM telah mengambil langkah konkret dalam melaksanakan Inpres 6 tahun 2016 yaitu dengan membentuk Satuan Tugas Percepatan Pengembangan dan Pemanfaatan Produk Biologi.

Inspektur CPOB dari setiap negara secara aktif berdiskusi membahas isu terkini di bidang obat serta berbagi pengalaman dan perspektif dalam menghadapi permasalahan di lapangan. Hal ini diharapkan akan menjadi input untuk penyempurnaan pedoman PIC/S atau best practice dalam melakukan inspeksi. Selain mengakselerasi pengetahuan/kompetensi inspektur di bidang produk biologi, kegiatan ini dapat dimanfaatkan oleh para peserta untuk membangun jejaring agar lebih memperkuat kerja sama antar negara dan melakukan R&D produk inovasi tinggi. 

BPOM RI Setara dengan Institusi Pengawas Obat Negara Maju

BPOM RI bergabung sebagai anggota Pharmaceutical Inspection Co-operation Scheme (PIC/S), sebuah forum kerja sama dalam bidang inspeksi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) sejak 1 Juli 2012. Sebagai anggota ke-41 dari 52 negara peserta PIC/S, BPOM secara berkesinambungan berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan PIC/S untuk mendukung terwujudnya harmonisasi standar serta peningkatan kapasitas dan kompetensi personil dari masing-masing negara anggota tersebut. 

Menurut Penny, dengan menjadi anggota PIC/S, artinya kualitas BPOM dapat disejajarkan dengan institusi pengawas obat di negara maju lain seperti di AS, Inggris, Jepang, dan Australia. 

“Menjadi anggota PIC/S berarti kualitas pengawasan Badan POM dapat dikategorikan sejajar dengan institusi pengawas bbat negara maju anggota PIC/S lainnya seperti Amerika Serikat (US FDA), Inggris (MHRA), Jepang (PMDA) dan Australia (TGA),” ujar Penny. Hal ini berarti standar, sistem manajemen mutu dan kompetensi Inspektur CPOB Badan POM mendapat pengakuan internasional. 

Bahkan tiga tahun setelah bergabung, BPOM RI pun dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan PIC/S Committee Meeting and Seminar on GMP for Biotechnology Facility pada 5-9 Oktober 2015.

Lanjutkan Membaca ↓