4 Faktor Utama Penyebab Jemaah Haji Indonesia Sakit di Tanah Suci

Liputan6.com, Jakarta Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan RI, Eka Jusup Singka, mengungkapkan ada empat faktor utama yang membuat jemaah haji Indonesia sakit atau meninggal selama di Tanah Suci. Yakni air, suhu, kelelahan dan adaptasi. Semua jenis penyakit bisa muncul karena empat faktor ini.

“Seluruh petugas kloter dan jemaah haji harus berkolaborasi untuk mengendalikan faktor-faktor tersebut salah satunya dengan program minum air bersama,” kata Eka saat memberi arahan pada para Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) pada Jumat (12/7) di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah.

Ketika sudah mengetahui faktor utama yang membuat kesakitan dan kematian, ada empat faktor utama yang perlu diperhatikan petugas kesehatan haji yakni 1.) kekurangan cairan atau dehidrasi, 2.) suhu atau cuaca yang panas, 3.) kelelahan fisik jemaah, 4.) kemampuan beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

Dalam penanganan harus melakukan rehidrasi untuk mengembalikan kecukupan cairan. Bagi jemaah haji yang sehat, dianjurkan untuk sesering mungkin minum air mineral atau air zam-zam tanpa menunggu haus. Sementara bagi yang sedang sakit atau terlihat lemas, segera diberikan infus yang adekuat.

“Waktu kunjungan ke kloter, saya lihat memang banyak sekali jemaah haji itu yang belum terpapar betul tentang pentingnya minum air, atau tahu tapi perilakunya belum,” kata Eka seperti dikutip rilis dari Kementerian Kesehatan ditulis Minggu (14/7/2019).

Lalu, pastikan menggunakan alat pelindung diri yang benar. Apalagi mengingat suhu di Arab Saudi yang tinggi.

2 dari 3 halaman

Atur Aktivitas, Jangan Memaksakan Diri

Beberapa orang Indonesia melakukan umrah sebelum naik haji. Bisa dibilang, Indonesia mempunyai peminat cukup besar untuk jemaah umrahnya.

Jemaah haji juga harus bisa mengendalikan aktivitasnya, jangan terlalu memaksakan diri. Masa tinggal jemaah haji di Arab Saudi selama sekitar 40 hari tentu harus diatur dengan baik.

Jemaah harus mengatur waktu istirahat yang cukup, agar pada saat puncak haji punya stamina prima. Keempat ialah kemampuan beradaptasi. Sejauh mana jemaah bisa menyesuaikan diri dengan kondisinya saat di tanah suci. Karena kalau kita tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar, maka salah satunya dapat terjadi stres atau bahkan gangguan kejiwaan berat.

“Jadi ini adalah kunci di mana saya sampaikan kepada seluruh TKHI dan PPIH untuk memperhatikan empat faktor ini,” pungkas Eka.

3 dari 3 halaman

Simak juga Video Menarik Berikut Ini