3 Fakta dan Mitos Autisme pada Anak

Liputan6.com, Yogyakarta Pemahaman mengenai gangguan spektrum autisme yang belum lengkap kerap memunculkan pemahaman yang keliru tentang autisme di masyarakat. Pakar kesehatan anak dari Fakultas Kedokteran, Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat (FK-KMK) UGM Mei Neni Sitaresmi mengungkapkan sejumlah fakta dan mitos seputar autisme dalam seminar umum bertajuk Autism Spectrum Disorder (ASD) di Gedung Pascasarjana UGM, Kamis (8/8/2019).

Fakta atau mitos, autisme bisa sembuh?

Mei Neni menjelaskan autisme bukan penyakit, sekalipun tak jarang orang dengan autisme mengidap penyakit. Penyakit yang dimaksud adalah penyakit penyerta, seperti, 50 persen mengidap disabilitas intelektual, sepertiga dari jumlah orang dengan autisme mengidap kejang atau epilepsi, setengah dari jumlah orang dengan autisme mengalami masalah pencernaan, gangguan tidur, gangguan pemusatan perhatian, memasukkan barang ke mulut, hypersensitive maupun hyposensitive.

“Yang dibutuhkan oleh anak dengan autisme adalah tata laksana, sehingga kualitas hidup mereka menjadi lebih baik karena autisme akan tinggal bersama dengan mereka seumur hidup,” ujarnya.

Menurut Mei Neni, peran keluarga dalam tata laksana menjadi sangat penting, di samping peran dari berbagai disiplin ilmu lainnya, seperti, dokter, psikolog, perawat, dan pendidik. Dukungan orangtua yang tepat akan mampu mengeluarkan dan mengoptimalkan kemampuan anak autisme yang biasanya memiliki talenta tertentu di atas rata-rata kebanyakan orang awam.

Fakta atau mitos, vaksin bisa mengakibatkan autisme?

Penelitian membuktikan tidak ada hubungan antara vaksin dengan autisme. Artinya, vaksin bukan penyebab autisme. Penyebab gangguan spektrum ini memang belum diketahui secara detail. Meskipun demikian, para ahli berkesimpulan, penyebab autisme adalah kombinasi faktor genetik dan lingkungan.

“Peran faktor genetik ditunjukkan adanya peningkatan kejadian ASD pada anak laki-laki, anak kembar identik, maupun pada anak yang mengalami kelainan bawaan seperti sindroma Fragil X,” tuturnya.

Faktor lain yang diduga memicu autisme antara lain peningkatan faktor risiko, seperti paparan polusi, penggunaan pestisida, ibu melahirkan di atas usia 40 tahun karena mutasi gen berisiko lebih tinggi menghasilkan anak autis, serta gangguan atau penyulit kehamilan dan persalinan, misal, infeksi bayi, prematur, dan sebagainya.

2 dari 2 halaman

Deteksi Sejak Dini

Pakar kesehatan anak dari Fakultas Kedokteran, Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat (FK-KMK) UGM Mei Neni Sitaresmi mengungkapkan sejumlah fakta dan mitos seputar autisme dalam seminar umum bertajuk Autism Spectrum Disorder (Liputan6.com/ Switzy Sabandar)

Fakta atau mitos, autisme bisa dideteksi sejak dini?

Autisme bisa dideteksi sejak dini. Gejala awal mulai terlihat sebelum anak usia dua tahun. Persoalannya, orangtua kerap terlambat menyadari sehingga tata laksana pun semakin kompleks.

“Pada kenyataannya, sebagian besar anak dengan autisme didiagnosis setelah usia empat tahun,” ucap Mei Neni.

Ia menyebutkan, hal yang paling bisa dijadikan indikator untuk menentukan kemungkinan seorang anak autisme atau tidak adalah dengan mengamati perilakunya. Anak yang cenderung diam perlu mendapat perhatian lebih untuk memastikan ia hidup dengan autisme atau tidak.

Pada dasarnya, autisme merupakan gangguan perkembangan otak yang ditandai dengan adanya gangguan dan kesulitan penderita untuk berinteraksi sosial, berkomunikasi baik verbal maupun non-verbal, serta adanya gangguan perilaku, aktivitas yang berulang, stereotype, dan adaptasi.