Mewujudkan pelabuhan penyeberangan yang modern (2)

Selat Sunda (ANTARA News)  – Sebagai pelabuhan penyeberangan–yang bisa dikatakan–tersibuk di Indonesia saat ini,  PT ASDP (Persero) Merak-Bakauheni melayani puluhan ribu orang setiap hari.  
   
Selain orang, ribuan kendaraan pribadi,  umum dan truk juga diseberangkan melalui rute pelayaran ini setiap hari.  Peran itu dilakukan sejak awal dekade 1980-an. 
   
Arus mobilitas manusia dari Pulau Jawa ke Sumatera atau sebaliknya menyandarkan harapan yang begitu besar kepada kehandalan dan kemapuan manajemen untuk melayaninya. Apalagi arus manusia, kendaraan dan barang terus meningkat setiap tahun. 
   
Belum lagi kalau berbicara soal arus logistik, barang kebutuhan industri dan bahan kebutuhan pokok bagi penduduk dua provinsi, bahkan Indonesia.  Pelabuhan penyeberangan ini adalah urat nadinya.
   
Rentang waktu hampir 40 tahun keberadaan perusahaan plat merah ini di Selat Sunda telah lebih dari cukup untuk membuktikan hal itu. Pelabuhan penyeberangan ini adalah jembatan masa lalu,  masa kini dan di masa depan.  
   
Namun peran dan keberadaannya itu tidak selayaknya lantas membuat terlena dengan apa yang sudah dicapai. Justru sebaliknya,  semakin strategis peran dan keberadaannya maka semakin penting untuk terus berbenah menghadapi perkembangan semua bidang. 
   
Itulah yang tampaknya telah, sedang dan akan terus dilakukan manajemen perusahaan ini. Percepatan pelayanan melalui “cashles” hanya salah satu dari program modernisasi di pelabuhan penyeberangan ini. 
   
Berbagai pembenahan lainnya juga terlihat nyata. Dari sisi infrastruktur pembayan non tunai,  misalnya, selain loket-loket pelayanan juga sarana pendukung. 
   
Selain kertas hasil cetakan tiket, penumpang mendapatkan kartu yang gunanya untuk bisa melintasi jalan masuk koridor menuju dermaga.  Dengan hanya menempelkan kartu berwarna biru yang diberikan petugas di loket,  pintu pun terbuka. 
   
Sesampai di dermaga yang dituju,  petugas ASDP meminta kartu itu lalu mengarahkan atau memberi tahu koridor untuk menuju kapal. 
   
Dari sini terlihat adanya perubahan dibanding sebelumnya.  Petugas meminta kartu yang diberikan di loket sambil berkata “terima kasih”.
   
Di tengah sedikit kebingungan calon penumpang yang belum punya alat pembayaran nontunai dari empat bank pemerintah,  staf dan petugas memberi penjelasan dengan bahasa lugas serta mudah dipahami. Mereka pun mengarahkan calon penumpang agar mengikuti prosedur baru. 
   
Kesabaran, kesantunan dan etika mereka jaga.  Salah satunya mengawali penjelasan
dengan kata-kata “maaf pak,  bu”.
   
Dalam konteks pelayanan publik, kata-kata itu dianggap sebagai pencerminan kerendahan hati. Juga kesiapan memberi pelayanan. 
   
Penumpang mulai merasakan perbaikan pelayanan.  Walaupun tantangan terlihat masih ada dan harus segera mendapat perhatian.
   
Misalnya, masalah pedagang asongan yang ada di terminal kedatangan bus sampai pintu masuk pelayanan tiket di Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni. Selain itu jarak yang jauh antara loket pelayanan calon penumpang dengan terminal bus di Merak.  
   
Tetapi hal itu diyakini akan mampu diselesaikan oleh manajemen perusahaan pengelola pelabuhan penyeberangan  ini. 

Baca juga: Menteri BUMN tinjau kesiapan Dermaga Eksekutif Merak
Penataan Fisik
Dari sisi fisik,  manajemen ASDP tampak mempersiapkan masa depan pelabuhan penyeberangan ini sangat serius. Sebelum sampai loket pelayanan, calon penumpang telah ada petunjuk yang jelas mengenai arah yang harus dituju. 
   
Kemudian koridor-koridor tertata rapi pula. Dengan begitu,  calon penumpang tinggal mengikuti petunjuk yang ada dalam plang berikut tanda panah. 
   
Dengan demikian calon penumpang tidak bakal tersesat atau salah mengambil jalur karena adanya pembatas. Dari sisi keamanan,  selain pos keamanan,  juga terdapat kamera pemantau (CCTV) di lokasi tertentu.  
   
Satu hal yang juga terlihat jelas adalah kebersihan yang terjaga.  Mulai dari kamar kecil (toilet)  yang bersih dan air yang tersedia lebih dari cukup hingga koridor menuju kapal yang bebas sampah,  wslaupun sekedar puntung rokok atau plastik dan botol air mineral. 
   
Suasana yang lebih teratur dan tertata rapi menghadirkan kenyamanan bagi pengguna jasa penyeberangan ini. Dengan kondisi yang akan terus ditingkatkan itu maka wajar dan masuk akal apabila manajemen ASDP Indonesia Ferry yang dipimpin Ira Puspadewi berobsesi nantinya pelayanan di pelabuhan penyeberangan ini akan senyaman di bandara. 
   
Dari atas koridor menuju kapal terlihat di bawah sana antrean pengguna jasa yang menggunakan sepeda motor,  kendaraan pribadi,  bus dan truk berjejer di dermaga. 
   
Antrean masuk ke lambung-lambung kapal untuk diseberangkan ke Sumatera atau sebaliknya ke Jawa. Untuk kendaraan juga dilakukan penataan sehingga ketika baru selesai dari pintu pembayaran pelabuhan, pengemudi sudah tahu arah dermaga mana yang dituju. 
   
Ada enam dermaga di jalur pelayaran sejauh sekitar 10 mil ini. Salah satu dermaga yang dipersiapkan adalah Dermaga VI untuk melayani penumpang kelas eksekutif. 
   
Dermaga-dermaga itu ternyata sudah disiapkan untuk bisa melayani kapal berkapasitas di atas 5.000 gross ton (GT). Artinya sudah disiapkan untuk bisa melayani kapal+kapal roll of roll on (roro) yang besar. 

Ini sejalan dengan rencana pemberlakuan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 88/Tahun 2014 tentang Pengaturan Ukuran Kapal Penyeberangan Merak-Bakauheni.  Berdasarkan aturan itu, maka mulai 24 Desember 2018, kapal yang melayani jalur penyeberangan ini adalah kapal berbobot di atas 5.000 GT. 

Baca juga: BUMN HADIR – Kapal eksekutif Merak-Bakauheni berlayar mulai 15 agustus
Kapasitas
Kementerian Perhubungan telah memberi waktu empat tahun bagi ASDP beserta perusahaan penyelenggara penyeberangan untuk mempersiapkan diri sesuai Kepmenhub itu.  
   
Saat ini kapal yang ada sebanyak 71 unit,  namun baru 51 unit berkapasitas di atas 5.000 GT. Mulai 24 Desember mendatang jumlah kapal yang berkapasitas di atas 5.000 GT sebanyak 68 unit. 
   
Dengan beroperasinya kapal-kapal yang lebih besar dan berkapasitas di atas 5.000 GT maka daya angkut kendaraan dan orang juga meningkat.  Nantinya jumlah kendaraan roda empat atau lebih yang mampu diseberangkan mencapai 720 per jam atau 17.200 per hari dengan pola operasi 34 kapal.

Mengapa dibatasi 68 kapal? 
   
Menurut Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setyadi, jumlahnya hingga 68 untuk mengantisipasi masa padat penumpang (peak season).  Seperti akhir tahun, libur nasional dan musim mudik lebaran. 
   
Saat ini,  menurut data yang pernah disampaikan Direktur Operasi PT ASDP indonesia Ferry,  La Mane, jumlah kendaraan yang menyeberang dari Jawa maupun Sumatera mencapai 10.000 unit hingga 12.000 unit per hari. 
   
Mereka umumnya menyeberang di malam hari. Nantinya dengan beroperasinya tol di Sumatera khususnya di Lampung, dipastikan akan terjadi peningkatan arus kendaraan, barang dan orang yang melintasi rute ini. 
   
Peningkatan itu diprediksi secara merata setiap jam. Karena itu peningkatan kapasitas dermaga dan kapal merupakan langkah tepat untuk mengantisipasinya.    
   
Ini adalah potret dari wajah Pelabuhan Penyeberangan Merak-Bakauheni sekarang.  Pembenahan dilakukan di semua lini agar menjadi lebih modern untuk menghadapi tantangan ke depan.  
Baca juga: Mewujudkan pelabuhan penyeberangan yang modern (1)
Baca juga: Kemenhub bantu pengalihan lintasan kapal kurang 5.000 GT dari Merak-Bakauheni
Baca juga: Kemenhub alihkan sembilan kapal Merak-Bakauheni ke wilayah lain

Oleh Sri Muryono
Editor: Desi Purnamawati
COPYRIGHT © ANTARA 2018