Sokongan masyarakat Internasional untuk pemulihan Sulawesi Tengah oleh Azis Kurmala

 Jakarta (ANTARA News) – Masa tanggap darurat bencana gempabumi dan tsunami di Sulawesi Tengah akan berakhir pada Jumat (26/10) sehingga upaya pemulihan dampak bencana terus ditingkatkan.

Upaya rehabilitasi dan rekonstruksi di Palu dan wilayah sekitarnya dikhususkan pada pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, pelayanan medis, perbaikan infrastruktur dasar, dan normalisasi kehidupan masyarakat.

Pemerintah Indonesia menyiapkan dana sebesar Rp1,06 triliun untuk penanganan darurat bencana di Sulawesi Tengah.

Dana tersebut untuk membantu keselamatan, kesehatan, pengungsian, serta stok bahan makanan bagi para masyarakat yang terkena dampak musibah itu.

Dalam menangani percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi di Sulawesi Tengah, Indonesia mendapat sokongan dari dunia internasional. Tercatat 20 negara telah membantu Pemerintah Indonesai selama penanganan darurat pascagempa Sulawesi Tengah (Sulteng). 

Negara tersebut antara lain Amerika Serikat, Australia, India, Inggris, Jepang, Jerman, Kanada, Korea, Malaysia, Perancis, Qatar, RRT, Rusia, Spanyol, Selandia Baru, Singapura, Swiss, Turkei, dan Ukraina. Selain itu, Pemerintah Indonesia juga mendapatkan dukungan bantuan dari ASEAN Coordinating Centre For Humanitarian Assistance (AHA Centre) dan Badan PBB.

Melalui USAID/OFDA, pemerintah Amerika Serikat memberikan tiga juta dolar AS dana tambahan untuk mendukung upaya bantuan tanggap bencana gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah.

Dana tambahan ini meningkatkan total sumbangan AS untuk pemulihan pascabencana Sulawesi Tengah menjadi 6,7 juta dolar AS, di luar biaya operasional Departemen Pertahanan AS.

Tiga pesawat Hercules C-130 AS dan personnel Angkatan Udara AS pendukung dari Satuan Contingency Response Group ke-36 di Guam juga telah memperpanjang masa operasi penerbangan udara untuk menghubungkan Balikpapan dan Palu hingga 25 Oktober 2018.

Duta Besar AS untuk Indonesia Joseph R. Donovan Jr mengatakan pemerintah AS akan terus mendukung Indonesia dalam upaya bantuan. “Inilah yang kami maksudkan ketika kami mengatakan bahwa kami adalah mitra Indonesia,” ujar dia.

Dana tambahan tiga juta dollar AS dari USAID/OFDA akan terdiri dari 2,4 juta dolar AS untuk program tanggap darurat multisektor bagi keluarga yang terkena dampak bencana, termasuk untuk meningkatkan akses langsung ke air bersih, sanitasi, dan kebersihan.

Selain itu, dana tersebut digunakan untuk tempat penampungan dan pemukiman, ruang perlindungan dan kegiatan untuk anak-anak yang terkena dampak, pemulihan ekonomi dan sistem pasar untuk membantu masyarakat pulih secara lebih cepat, serta memberi mereka pilihan yang bermartabat dalam memprioritaskan kebutuhan mereka yang paling mendesak.

Kemudian bantuan teknis senilai 300 ribu dolar AS kepada pemerintah Indonesia melalui dukungan kepada koordinasi Shelter Sub-Cluster guna memperkuat penampungan darurat dan jangka panjang bagi mereka yang kehilangan tempat tinggal.

Sementara 300 ribu dolar AS lainnya digunakan untuk bantuan teknis kepada pemerintah Indonesia melalui dukungan kepada Camp Coordination dan Camp Management Sub-Cluster guna memperkuat seleksi, rancangan, koordinasi, dan pengelolaan area transisi bagi para IDP untuk jangka panjang dan pengumpulan data untuk memonitor demografi IDP dan pola pergerakan sehingga tanggap bencana dan pemulihan sesuai sasaran dan efektif.

Kemudian, China, melalui Palang Merah Tiongkok, menggelontorkan dana bantuan berjumlah 200 ribu dolar AS atau Rp 3 miliar untuk korban gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah. Bantuan tersebut disalurkan melalui Palang Merah Indonesia.

Selain itu, China mengirimkan lima pesawat pembawa bantuan untuk penanggulangan bencana di Sulawesi Tengah.

Pemerintah Tiongkok memberikan bantuan berupa tenda, sistem pembersih air, fogging, generator listrik, dan lainnya kepada Pemerintah Indonesia. 

Sementara itu, Pemerintah Rusia mengirimkan lebih dari 24 ton bantuan kemanusiaan kepada korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah dengan pesawat khusus Emercom.

Kargo berisi generator elektrik, sistem pembersih air, tenda dan selimut.

Di samping itu, pemerintah dan masyarakat Uni Eropa(UE) menyalurkan bantuan senilai 18 juta Euro atau sekitar 22 juta Dolar Amerika Serikat selama masa tanggap darurat penanganan bencana gempa bumi, tsunami dan likuifaksi di Sulawesi Tengah.

Dalam kunjungan ke Palu, Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunai Darrusalam, Vincent Guerend mengatakan bahwa masyarakat Uni Eropa sangat sedih dengan bencana alam ini, karena itu masyarakat UE berupaya semaksimal mungkin untuk memberikan bantuan sesuai dengan permintaan Pemerintah Republik Indonesia.

Selama kunjungan di Palu, Vincent Guerend didampingi tujuh dubes negara-negara Eropa yakni dari Prancis, Inggris, Jerman, Denmark, Spanyol, Austria dan Slovakia serta sejumlah anggota tim European Civil Protection.

Ia mengatakan ada tiga jenis bantuan untuk para korban bencana alam ini yang menjadi perhatian masyarakat UE yakni tenda-tenda untuk pengungsi dan sekolah darurat, tempat-tempat hunian sementara serta penyediaan air bersih.

Bantuan-bantuan tersebut, lanjut dia, disalurkan sesuai dengan permintaan pemerintah Indonesia dan kebutuhan mendesak para korban, terutama yang berada di tempat-tempat pengungsian sementara.

Ia mengatakan pemerintah dan masyarakat UE akan terus memberikan perhatian dan bantuan ke Sulawesi Tengah.

Enam Pesawat Asing

Sebanyak enam pesawat asing mengangkut bantuan seberat 103 ton dari Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaimandi Balikpapan menuju Bandar Udara Mutiara Al-Jufri di Kota Palu, Sulteng pada Rabu (17/10). 

Enam pesawat tersebut merupakan dukungan transportasi dari Pemerintah Amerika Serikat, Australia, Kanada, Korea, Jepang, dan Singapura, ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho. 

Sutopo mengatakan sebanyak 64 sorti penerbangan dengan menggunakan pesawat angkut militer membawa bantuan dari Balikpapan sebagai pintu masuk menuju Palu. 

Pesawat yang rata-rata menggunakan jenis C-130 Hercules tersebut mengangkut bantuan dari dalam dan luar negeri berupa bantuan pangan dan non pangan. 

Bantuan pangan yang dibongkarmuat tersebut berupa air mineral, mie instan, biskuit, makanan gizi bayi, minyak goreng dan beras, sedangkan non pangan didominasi tenda. Selain itu, pesawat juga menurunkan 1 unit “forklift” yang digunakan untuk mengangkut barang yang diturunkan dari pesawat. 

BNPB melaporkan bantuan yang belum terkirim per Rabu (17/10/) terdiri dari 32 unit genset dari Cina sebanyak 32 unit (3,46 ton) dan tenda Alpinter dari UNICEF sebanyak 42 set (14,49 ton). Bantuan ini akan diangkut dan dikirim ke Palu dengan pesawat Angkatan Udara Amerika Serikat dan Jepang pada hari ini. 

Total bantuan internasional yang telah diterima oleh Pemerintah Indonesia seberat 980 ton dengan kategori pangan dan non pangan. 

Sementara itu, tenda yang dikirimkan lebih dikhususkan untuk pemenuhan kebutuhan tenda sekolah. Sebanyak 13 palet kemasan tenda sekolah bantuan UNICEF dikirimkan melalui dua sorti oleh pesawat Angkatan Udara Amerika Serikat. 

Berdasarkan data per Selasa (16/10) pukul 20.00 Wita Dinas Pendidikan Pemerintah Provinsi Sulteng, total sekolah, mulai dari tingkat TK, SD, SMP, SMA, SMK, SLB, MI dan MTs, terdampak berjumlah 1.185 unit. 

Kerusakan terbesar teridentifikasi di Kabupaten Donggala (499 unit), Kota Palu (359), Kabupaten Sigi (234) dan Kabupaten Parigi Moutong (93). Dari total jumlah tersebut, kerusakan ruang kelas dengan kategori rusak berat dan rusak sedang mencapai 4.722 unit. Sampai dengan hari ini, ribuan tenda untuk kelas darurat masih dibutuhkan di wilayah terdampak.    

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan beberapa fasilitas publik seperti listrik dan komunikasi sebagian besar sudah pulih kembali di daerah terdampak bencana. 

Pemulihan BTS untuk komunikasi di Sulawesi Tengah dari total 3.519 BTS, mencapai 96,1 persen. Jaringan Telkomsel telah pulih 100 persen, berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). 

Begitu juga dengan pasokan listrik. Tujuh gardu induk, 2.086 gardu distribusi dan 45 unit penyulang serta 70 dari 77 unit genset telah dioperasikan. 

Sebanyak 25 SPBU telah beroperasi di Kota Palu, Kabupaten Donggala, Sigi dan Parigi Moutong, yang dibantu dengan 13 unit mobil tangki dengan dispenser, distribusi melalu 40 truk tangki BBM dengan mengerahkan 132 relawan operator SPBU. Kondisi perekonomian berangsur-angsur normal kembali. 

Kemudian, sebanyak 25 pasar daerah, 3 pasar tradisional, 3 pasar swalayan, dan 17 perbangkan telah kembali beroperasi. Sekolah darurat telah dijalankan meski masih ada kekurangan tenda darurat dan sarana prasarana pendidikan dan belum semua siswa masuk sekolah.

Hingga Sabtu (20/10), dampak bencana di Sulawesi Tengah tercatat 2.113 orang meninggal dunia, sebanyak 1.309 orang hilang, 4.612 orang luka-luka dan sebanyak 223.751 orang mengungsi di 122 titik.

Mendekati musim penghujan kebutuhan huntara dan tenda yang layak untuk pengungsi menjadi kebutuhan mendesak, ujar Sutopo.

Kebutuhan mendesak untuk pemenuhan kebutuhan pengungsi dan masyarakat terdampak masih diperlukan hingga saat ini. Kebutuhan mendesak antara lain beras, gula, makanan bayi, susu anak, susu ibu hamil, kantong plastic, tenda, selimut (bayi, anak-anak, dewasa), minyak kayu putih, sabun mandi, pasta gigi, minyak goreng, seragam anak sekolah, buku dan peralatan sekolah, air bersih, MCK, penerangan di pengungsian, sanitasi, dan kebutuhan dasar lainnya.

Baca juga: Komitmen bantuan asing untuk Sulteng mencapai Rp220 miliar
Baca juga: Lima bantuan internasional untuk gempa Sulteng

Pewarta: Azis Kurmala
Editor: Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2018